Senin, 29 Juni 2009

Surat-surat untuk Tuhan

1.
Di sebuah rumah berukuran sedang di pinggiran kota, seorang pria sedang membungkuk di atas meja kayu kecil. Nampaknya ia sedang menulis surat. Surat itu nantinya akan ia kirim kepada Tuhan. Jangan tanyakan darimana ia tahu alamat kediaman Tuhan, karena ia memang tahu. Semua orang tahu.

Tulisnya:
Tuhan, jangan pernah mengklaim bahwa Kau adalah Mahaadil atau maha-maha yang lain. Aku bukannya kurang ajar atau membenci-Mu, tapi apa yang terjadi padaku sama sekali tidak menunjukkan keadilan-Mu apalagi kasih sayang-Mu yang notabene tak berbatas.
Kau tahu sendiri, kan? Setiap malam aku berdoa jungkir balik menyebut nama-Mu untuk memohon rahmat sehingga aku bisa keluar dari permasalahan hidupku. Kau tahu sendiri jumlah utangku pada Pak Hanur, dan Kau tahu apa yang bisa ia lakukan kalau aku tidak membayar utang sialan itu. Ia bisa membunuhku, Tuhan! Dan Aku pun sudah merubah jalur hidupku, sebulan terakhir aku tekun bekerja dan mengumpulkan sedikit uang untuk menyicil utang itu. Tapi apa yang Kau biarkan terjadi padaku?
Sore tadi ketika turun dari angkutan umum, kuraba bagian belakang tasku yang ternyata sudah robek. Seamplop gaji yang bisa menolongku dari guratan pisau anak buah Pak Hanur telah lenyap diambil orang! Lihatlah! Kau membiarkan seorang pencopet tak bermoral merampas hasil keringatku! Itukah yang Kau sebut dengan Allah menyayangi semua umat-Nya?!
Ingin sekali kusebut itu hanya omong kosong.


2.
Di atas sebuah tempat tidur di sebuah klinik kesehatan, terbaringlah seorang pemuda tampan dengan tangan dan kaki terluka. Tadinya ia dirawat oleh seorang suster, dan ketika suster itu keluar dari biliknya, si pemuda menarik keluar selembar kertas dari tasnya di atas meja. Dengan tangan yang terluka itu, ia mencoba keras untuk menulis. Sepertinya ia serius menulis sepucuk surat. Surat untuk Tuhan.

Tulisnya:
Gila! Ini sungguh gila!
Coba, Tuhan... Kau ingat-ingat lagi apa yang kulakukan tadi siang sebelum berangkat ke rumah Om Don, manajerku itu. Aku berdoa pada-Mu, bukan? Aku berdoa memohon perlindungan-Mu sepanjang hari ini. Aku memohon penjagaan-Mu selama aku berkendara di jalan. Dan sebagai Tuhan yang Mahabaik, bukankah tidak sulit sama sekali bagi-Mu untuk mengabulkannya? Kau tinggal menunjuk salah satu malaikat-Mu untuk mengawasi langkahku dan voila! Aku pasti selamat sampai tujuan.
Tapi apa yang Kau biarkan terjadi padaku? Mobilku selip di jalan tol dan menghantam pembatas jalan, bergerak tak terkendali dan sebuah mobil lain pun menabrakku cukup keras. Memang, aku tidak patah tulang atau pun gegar otak, tapi coba Kau perhatikan aku lebih lagi....
Besok seharusnya shooting untuk film FTV pertamaku akan dimulai. Awal dari karierku akan dimulai, dan kondisiku sekarang seperti ini! Tergeletak dengan luka-luka di sekujur tubuh. Sudah pasti shooting itu tidak bisa ditunda. Sudah pasti mereka akan membatalkan kontrakku.
Aku tak percaya, Tuhan. Selama ini aku mengandalkan-Mu. Kau membuatku gembira setengah mati pada hari di mana Pak Beno dari PH itu memberitahu Om Don bahwa aku mendapat peran utama. Tapi apalah artinya itu, bila pada akhirnya seperti inilah skenario yang Kau tulis?
Mungkin Kau tidak semulia seperti yang diyakini umat-Mu.

-------

1.
Sementara itu, di sebuah rumah reyot bedinding triplek lapuk, seorang pria kurus berusia setengah baya sedang duduk sejajar dengan anaknya yang berusia sepuluh tahun. Mereka memandang ke arah selembar kertas kosong sambil tersenyum tipis setelah bertukar pandang. Sang ayah meraih pulpen dan mulai menulis. Sedangkan anaknya memperhatikan seksama ketika ayahnya mulai menulis surat. Surat untuk Tuhan.

Tulisnya:
Tuhan, selamanya aku akan memuji-Mu. Kau mengabulkan doaku selama ini, Tuhan....
Akhirnya, anakku, Bambang, bisa meneruskan sekolah. Hilang sudah semua beban yang memberati kepalaku setengah tahun belakangan ini, sejak pihak sekolah mengancam akan mengeluarkan Bambang apabila SPP-nya tidak juga dibayar. Aku sempat pesimis, karena pekerjaanku yang pemulung tidak akan bisa melunasi tunggakan SPP Bambang. Apalagi aku masih harus menghidupi adik-adik Bambang yang masih kecil.
Tapi malam ini, Rudi anak Pak Asep, seorang tetangga dekat yang sudah saya anggap seperti anak sendiri, datang membantu. Memang Rudi selalu tahu penderitaan saya. Dan puncaknya, tadi ia memberikan pada saya seamplop uang yang cukup untuk melunasi SPP Bambang. Bahkan masih ada sisa untuk membeli susu dan beberapa obat untuk si Upik yang sakitnya tidak sembuh-sembuh.
Aku tidak tahu darimana Rudi mendapatkan uang itu, karena pekerjaannya hanyalah pembantu di sebuah depot masakan Jawa. Tapi Rudi bilang aku tak perlu khawatir, bahkan aku tak perlu mengembalikan uang itu. Jadi kuanggap semua ini adalah berkat dan jawaban dari-Mu, Tuhan.


2.
Di ruang tamu sebuah rumah mungil, seorang pemuda sedang duduk bersujud. Di hadapannya terbentang selembar kertas yang akan ia tulisi. Ia meremas pen di tangannya lantaran antusiasme yang ia rasakan. Dengan sukacita dan rasa syukur ia mulai menulis suratnya yang ia alamatkan pada Tuhan.

Tulisnya:
Tuhan, Kau dengarkan doaku!
Barusan Mas Karel menelepon dan mengatakan bahwa pihak PH yang memproduksi FTV itu menghendaki aku untuk mengisi peran utama! Katanya sih, aktor yang lebih dulu mereka pilih baru saja mengalami kecelakaan sementara jadwal kejar tayang mereka tak memungkinkan adanya pengunduran shooting.
Terima kasih, Tuhan!
Aku tidak bermaksud untuk berbahagia di atas penderitaan aktor itu. Tapi aku senang sekali mendapatkan pekerjaan ini. Dengan honornya, aku bisa membantu meminimalkan pengeluaran Mama. Kasihan Mama, ya Tuhan... Sudah dua tahun sejak Papa meninggalkan kami, Mama selalu bekerja keras untuk kami. Apalagi belakangan kesehatan Mama menurun... maka aku sangat bersyukur Kau beri aku kesempatan untuk menggantikannya menjadi tonggak keluarga ini.
Semoga Kau bimbing aku agar dapat bekerja dan berakting dengan maksimal. Jangan lupa Kau curahkan berkat untuk si aktor itu agar luka dan cederanya tidak parah sehingga ia segera sembuh. Obatilah kekecewaannya juga, ya Tuhan....
-------


Pernahkah Anda menulis surat untuk Tuhan?
Surat untuk Tuhan, isinya memang bisa berupa apa saja; pujian, ucapan syukur, permohonan, bahkan protes keras. Tuhan akan membaca semuanya, sebagaimana Ia mendengarkan doa semua umat-Nya.
Di layar ini, bolehlah kita menilik beberapa surat untuk Tuhan yang mungkin mewakili apa yang pernah kita rasakan, kita pertanyakan, dan kita syukurkan kepada-Nya.

Apa pun yang kita sampaikan melalui surat-surat kita untuk Tuhan, kita tetap hanya manusia yang akan sulit memahami alur pekerjaan-Nya. Kerap kita bertanya mengapa ada penderitaan. Kerap kita bersyukur dan merasa bahwa Ia benar-benar baik hati.
Tapi yang hampir selalu lupa kita sadari adalah, bahwa di balik penderitaan kita mungkin terselip bahagia orang lain. Begitu pula sebaliknya.
Mengapa pula kita harus memprotes dan berteriak bahwa Ia tidak adil hanya karena Ia menggilir roda kehidupan? Mengertilah, Tuhan sangatlah sibuk sehingga bukan skenario sederhana yang Ia tulis untuk setiap manusia.

Hanya dengan menerima keagungan misteri-Nya, kita akan hidup tenang dan takkan terpikir untuk menulis sehelai pun surat protes untuk-Nya. Karena sesungguhnya Ia tak layak menerimanya.


XOXO,
F.C.
(published on Felice Cahyadi's Facebook on June 5, 2009)

Tidak ada komentar: